Tentang rasa malu kita sudah membahas sebagian pada pembahasan mulimah berhentilah berlenggak-lenggok dan foto selfie di sosial media. Disana kita membahas, bahwa malu bagian dari keimanan. Dan di pembahasan seebelumnya membahas, adanya malu pada diri seorang muslim, akan mencegah kita untuk berbuat kemaksiatan.
Di fenomena zaman sekarang, bukan hanya berfoto selfi yang menampak kecantikan, bukan hanya berlenggak-lenggok. Tapi kita pernah melihat wanita menggoda laki-laki. Walau hanya sekedar candaan, namun sebetulnya tidak harus seperti itu dalam bergaul.
Jika berbicara dengan lawan jenis, suara kita, sikap kita juga harus ditata muslimah. Karena suara kita bisa jadi fitnah. Jaga suara kita, jangan mendayu-dayu. Lalu bagaimana dong kalau suaranya memang asalnya lembut? Coba untuk tegas untuk berbicara dan berbicara seperlunya.
dengan adanya rasa malu akan menjauhkan kita seorang muslimah dari berzina. Karena zina bisa terjadi karena hilangnya rasa malu pada diri wanita dan rusaknya solat seorang laki-laki. Jika kedua orang melangsungkan perzinahan perempuan dan laki-laki, hal ini terjadi karena keputusan perempuan, “Iya” / “Tidak”. Jika perempuan mengatakan”tidak” dengan jelas dan tegas, tidak akan berlangsung perzinahan itu.
Memiliki rasa malu pada muslimah adalah ciri khas muslimah yang sholiha, masyallah bukan, penting sekali perihal rasa malu ini, harus sekali kita jaga. Karena kenapa? Jika diri muslimah sudah tak ada rasa malu, maka kerusakan wanita itu dimulai ketika rusaknya rasa malunya. Harus kita tahu muslimah, bahwa peradaban dan kemenangan itu dimulai, ketika wanitanya itu benar, taat kepada Allah, karena rahim yang taat kepada Allah, akan melahirkan anak yang taat kepada Allah kkenapa
Dan pejuang atau pahlawan Islam itu lahir dari ibu yang taat kepada Allah. Ada hal yang harus kita tahu, kenapa orang kafir selalu tujuan serangannya kepada muslimah lebih awal? Karena mereka tahu jika rahimnya tidak baik akan mrlahirkan anak yang tidak baik. Kadang kita cenderung suka dengan hal yang kebarat-baratan, terlalu fanatik dengan perihal kebarat-baratan yang bisa menghilangkan rasa malu terlalu
Aku pernah, tiidak sengaja mendengar anak kecil usia SD mengatakan seperti ini “Aku ingin pacar oppa oppa korea”, lalu aku bertanya padanya “Kamu tau oppa oppa itu darimana?, jangan pacar-pacaran yah dek”, lalu anak itu menjawab “ Aku sering liat kaka perempuanku melihat oppa-oppa ka, jadi aku tau”. Aku mendengarkannya rasanya sedih, seusia segitu sudah tahu perihal seperti itu. Muslimah jika posisi kita adalah seorang kaka, kita akan menjadi sorotan untuknya, menjadi contoh untuknya, jika rasa malu pada diri ini sudah tertanam, malihat-melihat laki-laki pun kita harus menundukan pandangan, kita harus dapat menjadi contoh untuk adik-adik kita.
Mau apapun posisi kita, posisi menjadi seorang ibu, kaka, atau adik, jika kita seorang muslimah, rasa harus digenggam betul-betul. Sudah menjadi fitrahnya perempuan menjadi contoh yang baik untuk anak-anak dan adik-adik kita. Agar mereka bertumbuh menjadi muslimah yang sholiha.
Jika ada yang bertanya-tanya, apa hanya perempuan saja yang memiliki rasa malu? Laki-laki juga termasuk, haru menanamkan juga rasa malu padanya. Rasa malu menandakan bahwa Allah selalu melihat kita, jika ingin berbuat kemaksiatan, namun ingat bahwa Allah selalu melihat kita, dimanapun kita berada, walaupun kita bersembunyi, tetap kita tak akan luput dari pengawasan Allah. Maka dari itu perempuan dan laki-laki, sama-sama harus memiliki rasa malu.
Jika seorang laki-laki masih memberikan komentar di kolom postingan perempuan dengan komen yang tidak senonoh, berarti rasa malunya perlu di pertanyakan. Lalu perempuan pula yang tetap memposting foto wajahnya yang sering kita lihat pada masa-masa ini, perlu ditanyakan pula kenapa melakukan itu, dimanakah rasa malu itu.
Kenapa inginku sampaikan perihal rasa malu ini, pada tulisan kali ini, karena perihal ini perlu diperhatikan. Karena semakin kesini foto-foto perempuan terutama, sudah banyak sekali tersebar dan dapat dinikmati siapa saja yang melihatnya di sosial media. Hal ini aku tuliskan, karena aku sayang sekali dengan muslimah-muslimah di luar sana. Ku harap kita tetap terjaga selalu. Banyak kita dengar foto di edit oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, dan dapat menjadi fitnah, karena diedit tidak senonoh.
Hal ini ku tulis juga teruntuk diri sendiri, agar tidak melakukan hal itu lagi dan lagi. Ada suatu kalimat dari seorang ustadz yang bernama ustadz Omar Mitha, ia mengatakan “Jadi wanita seperti matahari, jangan jadi wanita seperti rembulan”
Maksudnya bagaimana?, baik muslimah jadi, jika seorang permpuan menjadikan ia sebagai rembulan, ia akan mudah dinikmati banyak orang yang melihatnya, namun jika muslimah menjadikan dirinya sebagai matahari, maka tidak bisa semua orang menikmatinya, karena sinar matahari yang menyilaukan, seakan-akan sinar itu menghalang mata-mata yang ingin melihatnya.
Komentar
Posting Komentar