Di pembahasan sebelumnya, kita sudah membahas kekuatan kesabaran. Pembahasan kali ini ialah muslimah janganlah mengeluh. Pernah tidak, kita merasa saat mengeluh perasaan hati kita tenang, pernah tidak, kita merasa saat mengeluh tidak menyelesaikan masalah yang ada.
Kita manusia pasti pernah mengeluh, mengeluhkan keadaan yang sebenernya sudah lelah. Mengeluh datang dari di fikiran kita yang negatif. Lalu mengapa kita tidak boleh mengeluh, jika memang manusia sering sekali mengeluh?
Kita memiliki ujian yang berbeda, mengeluh pasti ada, namun, kita tepis lagi dengan tanamkan dalam hati, bahwa Allah selalu ada untuk kita, tidak akan meninggalkan kita sendirian. Dan Allah sesuai dengan prasangka hambanya. Jika kita negatif, keadaan pun negatif, namun jika kita berfikir positif keadaan pun menjadi positif.
Mengeluh juga bukan hanya kita di timpa musibah atau ujian. Mengeluh bisa hadir juga kerana merasa tidak percaya diri. Seperti “ Ko muka jerawatan terus yah, jadi jelek gini”, “Enak banget yah bisa naik mobil, aku gini-gini aja naik motor”, “ Dia cantik banget yah, tidak seperti aku”.
Keluhan-keluhan ini sering terdengar oleh kita atau kita sendiri juga pernah merasakannya, entah itu tersirat di hati atau tersurat. kita tersandar bahwa kalimat tersebut, kalimat tidak bersyukur apa yang kita punya. Mengeluh sama dengan tidak bersyukur. Tidak bersyukur sama dengan tidak bahagia.
Dengan bersyukur menerima, apa-apa yang sudah Allah berikan pada kita, rasanya dumia ini tidak jadi beban untuk kita. Karena dunia memang tempat kita diuji, tempat kita mempersiapkan sebanyak-banyaknya bekal untuk perjalanan panjang kita nanti, yaitu akhirat.
Bagaimana agar kita menepis rasa mengeluh ini. Dengan cara menguatkan kesabaran, di pembahasan sebelumnya hanya membahas, dampak positif dari kesabaran dan dampak negatif jika kita tidak bersabar.
Yuk kita simak bagaimana kita menguatkan kesabaran agar tidak mudah mengeluh.
Yang pertama kiat untuk menepis hawa nafsu. Bagaimana melemahkan hawa nafsu. Yaitu dengan berpuasa, puasa dapat memecahkan hawa nafsu, jadi bisa menjadikan diri lebih bersabar. Lalu, jangan dendam, dan jaga pandangan kita, jangan pula mengumbar pandangan, karena kenapa? Karena profokator dari hawa nafsu adalah berawal dari melihat dan dengan melihat itu akan mendidihkan hati dengan hawa nafsu. Dengan melihat itu bahaya, maka dari itu lihatlah yang baik-baik saja dan bermanfaat. Menghibur diri dari yang mubah secara profosional tidak berlebihan, misalnya dengan mengistirahatkan diri dengan tidur, namun jangan berlebihan, akan mengabaikan urusan yang lainnya.
Kenapa diri perlu istirahat, agar fikiran pun tenang, agar tidak mudah sakit. Karena dari fikiran bisa membuat kita drop, maka dari itu kita butuh untuk istirahat.
Lalu selanjutnya, merenungkan dampak-dampak yang bisa terjadi jika membebaskan hawa nafsu kita. Hal yang membuat diri kita tidak sabar, karena tujuannya dunia, dan jika kita sesak dalam menghadapi musibah dunia, maka ia terlalu fokus terhadap dunia yang fana ini.
Kiat yang kedua yaitu untuk menguatkan kesabaran dengan menguatkan iman dan akal sehat. Bagaimana menambah kekuatan iman?
Yang pertama, dengan mengagungkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Teringat ucapan ustadz Muhammad Nuzul Dzikri mengatakSubhPenyakit dari ketidak sabaran obat dari musibaj adalah tauhid, tidak ada yang lebih bagus dari pada tauhid. Harus mengutamakan Allah ketid
Dan jika ingin bersabar harus kembali kepada Allah dan menguatkan iman adalah yang mutlak. Agar kita dapar jauh lebib bersabar.
Jika seseorang tidak sabar berarti, ia tidak menganggungkan Allah. Lalu bagaimana untuk menguatkan keimanan kita sehingga dapat menghilangkan hawa nafsu?
Dengan mencintai Allah, jika kita mencintai Allah, kita akan taat padanya. Tau mana yang harus di hindari dan mana yang harus di jalani.
Masih ingat kah, “bahwa tidak bersyukur sama dengan tidak bahagia”, kalimat ini sederhana tapi kenyataannya benar sekali. Jadi jika kita ingin bahagia sebetulnya sedehana, dengan bersyukur dan besabar dua perihl ini. Jika kita diuji, kita besabar pasti ada hikmahnya, tidak mungkin jika tidak ada hikmahnya, lalu bersyukur kepada Allah dengan ujian yang diberi, karena dengan ujian-Nya, kita bisa lebih bersabar, lebih tenang, lebih dewasa menghadapi sesuatu.
Jika kita bersyukur Allah akan memberikan kita nikmat, namun jika kita kufur nikmat, maka azab Allah sangat pedih. Ada pada surah Ibrahim ayat 7 yang artinya:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat."
Jadi, mengeluh adalah yang sia-sia, membuang waktu, fikiran dan tenaga kita. Sayang banget kan kalau kita meratapi masalah atau membandingan diri dengan yang lain. Kita diciptakan oleh Allah sudah memiliki kelebihan masing-maadalah
Apa yang kamu punya atau yang kamu bisa, belum tentu dia bisa. Dan bisa jadi dia menginginkan pula apa yanh kamu punya. Kalau taki selalu menuruti dan berlomba-lomba dalam hal dunia, pasti tidak ada ujungnya. Pasti kita bakal capek sendiri. Jika kita mengejar akhirat, dunia pasti mengikuti. Tetap kuatkan doa, tetap berikhtiar di maksimalkan, tawakal dipertahankan agat tidak kecewa.
Komentar
Posting Komentar