"Bertutur kata yang baiklah, karena ucapanmu, doa untukmu"
-Syifa Putri Faradiba-
Fitrah muslimah terlahir menjadi sosok yang lemah lembut jiwanya, menenangkan setiap insan. Dengan kelembutannya dapat merubah suatu yang keras menjadi suatu yang lembut dengan seizin-Nya.
Maka dari itu sepatutnya seorang muslimah berkata yang baik, tidak berkata kasar. Dan tidak memanggil kawan dengan julukan yang jelek. Karena kita seorang muslimah sebagai contoh dan peran terbaik untuk peradaban generasi rabbani di dunia.
Lalu Mengapa ko bisa, berucap kata-kata yang kasar?, tentu bisa, karena awal mula, sering mendengar ucapan yang tidak cakap terus-menerus di dalam lingkar pertemanannya, lalu menerapkannya pada dirinya, menganggap ucapan kasar itu hal biasa di masyarakat dan menjadi kebiasaan yang tidak baik. Ucapan apakah itu yang sudah tidak asing terdengar di telinga kita?
Yaitu ucapan, seperti hewan yang tidak pantas untuk didengar, dan ucapan kasar lainnya seperti “ Bodoh” , namun kata bodoh ini diubah konteks katanya yang terdengar kasar. Pasti di dalam benak kita, kita sudah dapat menebak, ucapan kasar seperti apa yang sudah menjamur dikalangan masyarakat, entah itu laki-laki atau pun perempuan, yang sudah luwes sekali saat mengucapkan kata kasar itu.
Dan kata kasar bukan hanya itu saja, namun seperti mengejek teman, dan memanggilnya dengan perkataan yang buruk. Yang sebenarnya dia tidak suka dijulukan seperti itu. Semisalnya, “ Eh gendut sini”.
Apakah kita pernah bertanya. Apakah dia menyukai panggilan seperti itu dan apakah dia nyaman?. Jika jawabannya “ Tidak ” atau “ Iya ”, tetap minta maaflah padanya dan berhenti untuk memanggilnya dengan julukan seperti itu. Karena kita tidak tahu hati manusia itu seperti apa, yang tahu hanya dirinya.
Dan di zaman sekarang ini kita sering mendengar di lingkungan sekitar kita. Anak SMP, SMA, Mahasiswa, bahkan mirisnya anak SD dengan mudahnya mengucapkan kata-kata hewan dan kata-kata kasar itu yang sebenarnya tidak pantas untuk dikatakan.
Anak-Anak SD pasti meniru orang yang lebih dewasa darinya. Mereka mengaggap hal itu boleh-boleh saja, karena melihat orang dewasa di lingkungannya. Padahal hal itu adalah buruk baginya. Hal seperti ini adalah tugas kita sebagai seorang muslim untuk mencontohkan hal yang baik dihadapan adik-adik kita.
Coba yuk kita renungkan, jika sejak dini sudah mendengar kata-kata yang tidak patut, bagaimana perkembangan adik-adik kita selanjutnya. Sikap kesopanan berkurang, akhlak pada anak berkurang. Lalu. apa yang harus kita lakukan?, lakukanlah perubahan pada diri, tanamkan pada jiwa bahwa kita adalah contoh bagi anak-anak dan sikap kita akan berdampak pada perkembangannya.
Jika ada yang bertanya, memang kamu tidak pernah mengucapkan kata kasar, hal itukan udah biasa banget pada zaman sekarang?. Aku akan menjawab, ya tentu aku pernah mengucapkannya, dan aku menyesal. Menyesal kenapa?, menyesal karena hal itu sia-sia, aku ucapkan, tidak ada timbal balik positif ke diri sendiri hanya memperparah kondisi menjadi hati makin memanas. Aku pernah mengucapkan kata kasar tersebut saat kondisi marah, jengkel sama orang. Dan saat itu aku menganggapnya hal itu biasa saja dan aku meremehkannya, padahal itu suatu hal yang buruk.
Coba yuk kita renungi kembali, Bahwa ucapan itu ringan sekali diucapkan tapi secara ga sadar kita mendapatkan dosa dan Allah tidak menyukai ucapan yang kasar. Bahwa kata kasar yang kita ucapkan kemungkinan besar menyakiti orang lain.
Dan kita juga sering menemui orang yang ketika tersandung kakinya, dan ketika marah, dan juga saat melihat suatu yang indah. Yang terucap dari mulutnya kata kasar tersebut.
Bagaimana kita bisa merubahnya, yang sudah menjadi kebiasaan sehari-hari?. Tidak ada kata terlambat yuk. Kita sama-sama membenah dan tata kembali ucapan kita. Coba kita ganti kata kasar tersebut saat terkena musibah mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Hal ini ada pada Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 156 yang artinya “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali )”.
Lalu saat kita marah, maka beristighfar, dan saat melihat suatu yang indah, maka ucapkanlah Masyallah. Ucapan ini membawa timbal balik yang baik untuk diri sendiri, karena menenangkan hati dan membuat kita selalu mengingat Allah di kondisi apapun.
Bagaimana kalau lingkungan pertemananku masih terdengar ucapan kasar?. Tetaplah melakukan kebiasaan baik, jadikan dirimu sebagai contoh untuk dirimu sendiri, jika kita merasa ingin berkata kasar, ingat bahwa tidak ada gunanya, tidak menambah pahala apapun hanya dosa yang didapat.
Dan ingatkan kawan kita, bahwa tindakan itu tidak baik, dan mengingatkan dengan cara yang patut dalam menyampaikannya dan tidak menyakiti hatinya. Semisal “ Sssst udah jangan ngomong gitu lagi, kita ganti aja yuk kata-katanya jadi yang lebih bermanfaat”
Al Imam Tirmidzi meriwayatkan dalam sunannya, dimana Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bersabda :
“ Sesungguhnya tidak ada sesuatu apapun yang paling berat ditimbang kebaikan seorang mu’min pada hari kiamat seperti akhlaq yang mulia, dan sungguh-sungguh (benar-benar) Allah benci dengan orang yang lisannya kotor dan kasar”.

Komentar
Posting Komentar